PRAKTIK-PRAKTIK LITERASI SEKOLAH


Sofie, ya Sofie Dewayani (Yayasan Litara) namanya selalu terdengung dalam jagat literasi Indonesia. Beliau menulis buku Suara dari Margin bersama Pratiwi Retnaningdyah. Hadir pada kegiatan diskusi Kemah Literasi Jawa Barat 2019 di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Sumedang (16/11/19). Sofie memberi materi tentang Praktik-praktik Literasi Sekolah: Dari Ragam Membaca, Keterampilan, Berkarya dan Membangun Kecakapan Hidup. Pada pemaparan diskusi, Sofie menyampaikan pentingnya 6 literasi dasar. Literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. 6 literasi dasar ini penting diterapkan di sekolah. Setidaknya diperkenalkan pada anak-anak. Negara-negara maju, setidaknya 6 literasi ini sudah terkuasai oleh anak-anak di sekolah. Guru bukan hanya berfungsi sebagai pengajar semata, lebih dari itu harus berinovasi dan berkreativitas untuk menumbuhkan atmosfer literasi di sekolah. Semisal membuat pojok baca di sudut kelas, atau mengajak ke TBM yang berada di sekitar sekolah. Selain pembelajaran tidak monoton, juga dapat bersinergi dengan Taman Baca Masyarakat. Selain Sofie, ada pula narasumber dari Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemendikbud, Billy Antoro dan Ade Sugiana (Guru SMPN 6 Sumedang). “Gerakan literasi di sekolah tidak akan berkembang apabila tidak ada keterlibatan publik (masyarakat) di dalamnya. Kemudian guru harus punya inisiatif dan inovatif terkait menumbuhkan budaya literasi di sekolah. Kalau tdak ada setidaknya dua gerakan tadi, literasi sekolah tidak akan maju. Apalagi dalam prosesnya, ada pula guru yang tidak paham dengan literasi.” Billy memaparkan dengan penuh semangat di depan peserta Kemah Literasi 2019. Ade Sugiana lebih memaparkan praktik-praktik literasi digital di sekolahnya. Ia memulai pemaparannya dengan bertanya ke peserta “apa itu literasi?”. Banyak jawaban terkait literasi dari peserta. Menurutnya jawaban dari para peserta benar semua, namun beliau mempunyai jawaban sendiri dengan literasi. Bahwa literasi itu adalah “maruah”. Peserta yang notabene dari latar belakang yang beragam, bersatu dalam satu diskusi yang dipimpin oleh Rudy Aliruda, menjadi sangat menarik. Peserta pun tidak pasif, mereka turut aktif dalam diskusi yang kurang lebih berjalan sekitar 2 jam.Dinamika diskusi terus berlanjut, sedangkan di ruang diskusi 1 sedang berlangsung diskusi gerakan literasi di masyarakat.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.