MENDEDAHKAN BUNYI DAN SUNYI IHWAL (SECONDARY) LITERASI

Googling Gutenberg merupakan sebuah judul pada halaman muka buku karya Atep Kurnia. Secara sederhana, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna petunjuk untuk mencari (kata kunci) Gutenberg pada mesin pencari google

Oleh: Vudu Abdul Rahman

Ketika kantong obat sintesis bernama CPH4 menyebar dalam tubuh Scarlett Johansson dalam film The Lucy (2014), besutan sutradara Luc Besson, kapasitas otaknya meningkat hingga 100 persen. Apa yang terjadi? Ia menghilang ke dalam kontinum ruang dan waktu. “Aku ada di mana-mana,” katanya dalam sebuah pesan teks pada layar komputer. Sebuah film bergenre aksi fiksi ilmiah tersebut mengingatkan saya terhadap upaya Atep Kurnia dalam mendedahkan kelisanan dan keaksaraan. Satu hal yang ingin saya katakan, yakni sebuah generasi kerap mencari muasal dengan alur sebab-akibat. Mulai dari mana titik awal sebuah pemikiran? Siapa yang memulainya? Begitulah pesan tersirat dari pertemuan Lucy dengan nenek moyang umat manusia, yang meskipun menurut saya, film ini merujuk pada teori Charles Darwin. Peristiwa Lucy menembus waktu jauh ke masa awal nenek moyang manusia hidup, ia bertemu seekor kera dengan nama yang sama, adalah alasannya.

Kita tak ingat lagi kapan persisnya percakapan dengan semesta itu dimulai. Yang kita tahu, percakapan itu berhubugan langsung dengan evolusi dan dorongan untuk bertahan hidup di tengah lingkungan yang kompleks, dengan sumber daya yang kadang melimpah kadang kering kerontang. Percakapan itu jelas sudah berdenyut ketika leluhur kita mulai memimpikan dan menggambar makhluk lain di dinding padas, ketika mereka mulai bisa berdiri tegak mendongak, menerawang bintang saat makhluk-makhluk lain hanya bisa merunduk-runduk bahkan melata menyusuri lendir-lendir prasejarah.

Sebuah paragraf dari buku Percakapan Semesta karya Nirwan Ahmad Arsuka (2017) mengajak kita untuk berpikir jauh ke masa lalu. Mengupas berbagai hal yang menunjukkan semesta melalui mata lensa fotografi, film, sastra, sejarah, dan sudut-sudut lain tentang penciptaan. Rahasia semesta berada di dalam dada dan kepala. Dapat diajak berdialog dengan kepekaan berpikir. Barangkali, seseorang yang telah terasah pemikirannya, sedikit demi sedikit dapat memahami bahasa sunyinya. “…, Sains (pengetahuan ilmiah) adalah bentuk tertinggi dan paling intim percakapan antara nalar dan semesta raya seisinya,” kalimat terakhir pada paragraf pembuka novel Carlos Fuentes, Terra Nostra, seperti dikutip Nirwan Arsuka. Seorang Atep Kurnia, bagi saya, ia selain menguasai tiga bahasa; Sunda, Indonesia, dan Inggris, merupakan seorang pembelajar sejati. Indikasi tersebut terlihat dari betapa bernas rujukan yang kerap dibunyikan dalam tulisan-tulisannya.

Saya kemudian teringat dengan pernyataan Plato tentang tulisan adalah teknologi. Saya tulis ulang pernyataan Plato dalam buku Walter J. Ong  hasil dari pengutipan Havelock (2013, hlm. 123) yang mengatakan bahwa Plato menganggap tulisan sebagai teknologi asing yang eksternal, sebagaimana  anggapan banyak orang masa kini terhadap komputer. Karena saat ini, kita sudah begitu terlalu dalam menginternalisasi tulisan, membuatnya menjadi bagian dari diri kita sendiri, sementara zaman Plato belum menjadikan tulisan sepenuhnya bagian dari diri mereka.

Googling Gutenberg merupakan sebuah judul pada halaman muka buku karya Atep Kurnia. Secara sederhana, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna petunjuk untuk mencari (kata kunci) Gutenberg pada mesin pencari google. Google sebagai kata infinitif (Verb 1) yang berubah menjadi googling sebagai kata kerja present continous tense, barangkali sepadan dengan kata kerja browsing. Penelusuran data tentang Gutenberg pada mesin pencari google, yakni beragam data tentang laman berbahasa Inggris, misal, gutenberg.org dan profil serta jejak digital tentang Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg. Siapa dia?

Asa Briggs dan Peter Burke (2006, hlm. 18) menjelaskan bahwa para sejarawan menamakan masa Eropa setelah invensi hidup sebagai periode ‘modern awal’, yang berlangsung dari kira-kira 1450 sampai tahun 1789. Dengan kata lain, mulai dari ‘revolusi percetakan’ sampai kepada Revolusi Prancis dan Revolusi Industri. Pada tahun 1450 itu adalah kira-kira tahun penemuan mesin cetak di Eropa oleh Johann Gutenberg dari Mainz—yang barangkali terinspirasi oleh teknik memeras anggur di tanah kelahirannya, Rhineland—yang menggunakan jenis logam yang dapat digerakkan.

Kelisanan dan keaksaraan tidak terlepas dari aspek berbahasa sebagai alat untuk berkomunikasi; menyampaikan dan menerima informasi. Aspek tersebut seperti yang telah diketahui khalayak, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek bahasa tersebut merupakan aktivitas berbahasa reseptif dan produktif. Semua aspek tersebut perlu dilatih untuk memiliki kecakapan literasi dasar yang telah dicanangkan Gerakan Literasi Nasional, Kemdikbud RI.

Penjelasan menarik Sapardi Djoko Damono dalam bukunya Alih Wahana tentang suara satu ayam yang sama akan terdengar berbeda. Suaranya dapat ditulis menjadi ku-ku-ru-yuk, kong-ko-ro-ngok, co-co-ri-co, cock-a-doodle-doo. Ayam tidak salah, kata Sapardi, alat pendengaran yang berbeda kemampuanlah penyebabnya. Kokok ayam adalah bunyi, aksara adalah gambar yang jelas tampak, misalnya, pada tulisan Mesir Kuno dan Cina. Bukankah aksara ‘a’ atau ‘alif’ atau ‘ha’ adalah juga gambar? Menurutnya, hal tersebut terjadi karena kemampuan cara mentransfer bunyi menjadi gambar (2018, hlm. 13 – 14).

Kang Atep, sapaan saya kepadanya, kerap membunyikan rujukan Walter J. Ong dari bukunya berjudul Orality and Literacy: Technologizing of the Word, 1982. Saya kutip langsung dari buku Ong yang diterjemahkan Rika Iffati dengan pengantar Bisri Effendi bahwa interaksi antara kelisanan, yang langsung dicapai semua manusia begitu dilahirkan, dan teknologi tulisan, yang tidak langsung dicapai siapa pun begitu dilahirkan, menyentuh kedalaman psike (2013, hlm. 270).

Bagi saya, kelisanan dan keberaksaraan yang tidak dapat diceraikan peralihannya tersebut merupakan pembahasan yang dominan, tentu saja banyak rujukan lain, yang masih bertautan dengan tulisan awal yang mengetengahkan narasi tentang warisan cetak dari kabuyutan-kabuyutan di wilayah Tatar Sunda. Ia merasa tertarik dengan tulisan Gunawan dan Munawwar Holil tentang “Membuka Peti Naskah Sunda Kuno di Perpustakaan Nasional RI: Upaya Rekatalogisasi”, yang disajikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XIII, antara 27 – 29 Juli 2010 di Solo, Jawa Tengah. Pembahasan lebih rinci dapat dilihat pada laman perpusnas.go.id mengenai “Sinurat Ring Merega; Tinjauan atas Kolofon Naskah Sunda Kuna(Jurnal: JUMANTARA, Edisi : Vol. 3 No. 1 – April 2012, (https://www.perpusnas.go.id/magazine-detail.php?lang=id&id=8196). Ia menelusuri dengan serius tentang jumlah Naskah Sunda Kuno yang dimiliki Perpusnas sesuai rekatalogisasi Gunawan dan Munawwar Holil.

Atep membahas juga tentang budaya baca Barat yang mengakar kuat ditilik dari sejarahnya yang telah membuat buku dengan bahan papirus, perkamen, velum, dan kertas. Papirus yang sebenarnya dari Mesir Kuno, melalui interaksi, berkembang di Eropa, lewat Yunani dan Romawi pada abad ke-4 sampai 1 SM. Eropa mengenal perkamen yang mulai berkembang pada abad ke-2 SM dan menggantikan papirus sebagai media tulis pada abad ke-4 SM. Dari papirus dan perkamen muncullah codex yang menjadi cikal bakal buku karena memungkinkan dibawa ke mana-mana (2019, hlm. 9). Ia menemalikannya dengan fakta dalam kehidupan sehari-hari. Keterkaitan budaya baca Barat dengan orang Sunda, misalnya, yang ibarat langit dengan bumi. Tradisi baca orang Barat mengakar kuat, Barat yang dimaksud mengacu kepada masyarakat Eropa Barat, kemudian Amerika Serikat. Indikasi perbedaan budaya tersebut dapat dilihat dari penerbitan buku per tahun di negara-negara Barat berkali lipat dibandingkan penerbitan buku di Indonesia. Kesaksiannya tersebut, ia hubungkan dengan kenyataan selama dirinya menjadi seorang ronin atau commuter, antara Kabupaten Bandung dan Kota Bandung, sejak 2006. Ia tidak pernah sekalipun memergoki anak kecil seusia siswa sekolah dasar atau menengah pertama, yang sedang asyik masyuk membaca buku atau media cetak lainnya. Mereka justru ‘autis’ dengan gawainya masing-masing. Ia menyebut fenomena tersebut merupakan semangat zaman yang tengah menyergap realitas.

Sedang pada tulisan-tulisan akhir, ia membahas bagaimana upaya penyelamatan literatur Sunda yang masih berserakan agar terdata dan tertata.

Walter J. Ong mengutip Havelock yang mengemukakan bahwa dalam budaya lisan primer, pengetahuan tidak dapat dikelola dalam kategori-kategori seperti itu, jadi digunakanlah cerita-cerita mengenai tindakan manusia untuk menyimpan, menata dan mengomunikasikan sebagian besar hal yang mereka ketahui. Budaya lisan yang menghasilkan rangkaian narasi cukup banyak, seperti kisah-kisah Perang Troya, di kalangan masyarakat Yunani kuno, cerita-cerita coyote, seenis anjing hutan, di kalangan berbagai penduduk Amerika asli, cerita-cerita Anansi (laba-laba) di Belize dan budaya-budaya Karibia lain yang memiliki warisan budaya Afrika, kisah-kisah Suniata dari Mali lama, kisah-kisah Mwindo di kalangan masyarakat Nyanga, dan seterusnya. Narasi sangat penting dalam budaya lisan primer karena bisa mengikat sejumlah besar adat dan pengetahuan dalam bentuk yang relatif panjang, besar, serta cukup tahan lama—yang dalam budaya lisan berarti bentuk-bentuk yang akan diulang. Peribahasa, cangkriman, pepatah, dan semacamnya tentu saja juga tahan lama, tetapi biasanya singkat (2013, hlm. 211).

Ong menegaskan bahwa transformasi elektronik atas ekspresi verbal telah memperkuat pelekatan kata pada ruang yang diawali oleh tulisan, lantas diperkuat oleh cetakan dan telah membawa kesadaran ke era baru kelisanan sekunder (2013, hlm. 202).

Pada saat yang sama, lanjut Ong, bersama telepon, radio, televisi, serta berbagai jenis alat penyimpanan suara, teknologi elektronik membawa kita memasuki era “kelisanan sekunder”. Kelisanan sekunder sangat menyerupai sekaligus sangat tidak menyerupai kelisanan primer. Seperti kelisanan primer, kelisanan sekunder memunculkan perasaan kelompok yang kuat, karena mendengarkan kata-kata yng terucap membentuk para pendengarnya menjadi kelompok, audiens sejati, persis sebagaimana membaca teks tertulis atau tercetak mengarahkan perhatian individu pada dirinya sendiri (2013, hlm. 203).

Atep mengupas juga soal digital immigrant dan digital native untuk berkolaborasi di era Revolusi Industri 4.0. Generasi yang lahir sebelum adanya teknologi digital mesti beradaptasi dan baru di kemudian hari mempelajarinya. Sedangkan, generasi yang lahir selama atau setelah pemerkenalan teknologi digital, mereka terbiasa hidup dengan konsep-konsep digital.

Revolusi, apa pun bidangnya, kerap mengejutkan Homo Sapiens untuk segera beradaptasi dengan setiap perubahannya. Dari zaman ke zaman, waktu kerap menjadi guru yang tepat bagi manusia. Setiap perubahan terjadi, teknologi baru terlahir. Pada awalnya, manusia merasa asing, tapi kemudian beradaptasi sebagai persiapan menuju perubahan berikutnya. Teknologilah jembatan manusia dari zaman ke zaman.

Perubahan terjadi karena setiap individu diantarkan rasa ingin tahu. Dari individu-individu yang bersepakat, kemudian mencari cara untuk mewujudkannya dalam realitas. Orang-orang kemudian lambat laun meninggalkan cara lama menuju budaya baru. Alat perubahan adalah teknologi yang dapat membangun juga merusak. Bangunannya kokoh atau rubuh tergantung seberapa tangguh nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, teknologi akan membantu kemanusiaan jika berada di tangan yang tepat. Sedangkan, kemanusiaan terbunuh jika teknologi berada di genggaman yang salah.

Pada suatu siang, saya berusaha menjaga frekuensi otak untuk menerima informasi dari pemikiran Atep Kurnia. Apalagi pembahasan yang dituangkan sang penulis merupakan pertalian pemikir-pemikir lain tentang sebuah tema.

Perlu waktu tiga jam untuk menyelesaikan beberapa puluh halaman, mulai pukul 14.00 – 17.00 WIB. Saya sengaja membaca sebuah rujukan Walter J. Ong, meskipun terjemahan, yang kerap dibunyikan Atep. Sekira 1,5 meter dari samping kanan tempat saya duduk, beberapa teman yang saya kenal tengah berdiskusi dengan rentang waktu yang sama di sebuah kedai kopi. Saya membaca sebuah buku dengan sunyi, sedang mereka membenturkan suara di ruang yang sama. Saya berasumsi tentang praktik langsung dari sebuah buku yang dibaca tentang kelisanan dan keaksaraan karya Walter J. Ong, yakni tata kelola informasi dalam budaya lisan yang berdasarkan kekuatan verbal masih perlu dibuktikan keabsahannya. Pertalian antarpesan dalam percakapan memerlukan rujukan yang kuat. Daya ingat kerap menurun seiring permasalahan setiap individu bertambah. Sedangkan, kekuatan pola pikir dalam budaya tulis kerap mempertautkan nalar si penulis yang tidak sekadar memerlukan daya ingat, melainkan kekuatan rujukan.

Plato menyatakan bahwa tulisan merupakan teknologi yang dapat menghancurkan (Walter J. Ong, 2013, …). Andaikan saya mengandalkan ingatan, pernyataan Plato yang ditulis Ong, tidak akan begitu persis. Tulisan ulang saya tentang pernyataan Plato sekadar reduksi yang sebagai pembaca belum tentu sama. Berbeda jika kemudian menulis ulang pernyataan Plato dengan mengutipnya untuk bahan rujukan agar tidak jauh berbeda. Saya tulis ulang pernyataan Plato dalam buku Walter J. Ong (2013, hlm. 123) hasil pengutipan dari Havelock yang mengatakan bahwa Plato menganggap tulisan sebagai teknologi asing yang eksternal, sebagaimana  anggapan banyak orang masa kini terhadap komputer. Karena saat ini, kita sudah begitu terlalu dalam menginternalisasi tulisan, membuatnya menjadi bagian dari diri kita sendiri, sementara zaman Plato belum menjadikan tulisan sepenuhnya bagian dari diri mereka.

Ternyata setelah membuka halaman yang benar, Plato menulis pernyataan Socrates bahwa tulisan menghancurkan daya ingat (Walter J. Ong, 2013, hlm. 119).

The Reader (2008) sebuah film menarik yang diangkat dari novel berjudul sama karya Benhard Schlink, yang dibintangi Kate Winslet (Hanna Schmitz) dan Michael Berg (David Kross) sebagai pemeran utama. Berawal dari Michael yang mengenang kebersamaan indah bersama Hanna. Wanita yang berprofesi sebagai kondektur trem tersebut mengenal seorang bocah laki-laki berusia 15 tahun (Michael) menepi di sebuah lorong apartemen untuk berteduh. Michael yang masih pelajar berusia 15 tahun itu muntah, Hanna yang baru pulang kerja, melewati lorong menuju apartemennya. Michael dirawat beberapa saat di apartemen Hanna. Pada usia tersebut, Michael telah mempelajari karya sastra dunia di kelasnya, misal, Les Misserables karya Victor Hugo dan Odyssey karya Homer. Michael kerap menceritakan karya sastra dari buku-buku penulis terkenal kepada Hanna, ia tidak tahu jika Hanna buta huruf. Pada sebuah persidangan, ketika Michael kuliah di fakultas hukum, ia baru mengetahui kekurangan kekasih yang usianya lebih dewasa.  

Hanna, sang tokoh utama, digambarkan tengah menghadapi dakwaan berat dalam kasus pembunuhan massal oleh Nazi. Michael, seorang mahasiswa ilmu hukum yang pernah ditolong Hanna, mengetahui ada bukti yang sebenarnya bisa membebaskan Hanna dari segala dakwaan. Namun, ia tidak mau mengakuinya, karena bukti tersebut akan mengungkap aib sosialnya. Aib tersebut ternyata Hanna buta huruf. Dalam cerita, Hanna kemudian akhirnya bisa membaca, dan memiliki harga diri yang lebih tinggi (Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdiyah, 2017, hlm. 79).

Buku Googling Gutenberg ibarat arah mata angin yang menunjukkan satu pemikiran ke pemikiran lain. Orang-orang besar diasingkan pada masa lalu untuk kemudian mengisi waktu dengan membaca buku. Maka, Tuhan dengan segala kasih sayang-Nya, memberi jatah juga untuk orang-orang biasa seperti saya untuk melalui pengasingan dalam bentuk sakit. Selain merefleksi beragam hal perjalanan hidup, membaca juga obat tanpa bahan kimia untuk segera bangkit. Banyak membaca bukan berarti semakin banyak tahu, justru sebaliknya, saya menciut, dan semakin mengecil. Betapa semesta pikiran masih sepi tanpa suara dentuman semacam Big Bang sebagai nada pertama kehidupan. Kosong. Hampa. Dan, masih tak ada tanda-tanda.

Lihatlah perdebatan akhir-akhir ini! Jika menyaksikan argumen satu dengan yang lain, tidak lagi saling menguatkan, melainkan saling serang-menyerang. Bagi saya, yang berkuasa di antara perdebatan tersebut, yakni mewakili individu dengan segala informasi (belum tentu pengetahuan) yang dimilikinya. Setiap individu, memiliki emosi semacam udara. Terkadang bersuhu tinggi juga rendah atau terasa dingin juga panas. Apakah tergantung iklim yang mengatur cuaca di dalam dirinya? Tentu saja, iya. Berbeda jika perdebatan-perdebatan tersebut saling melengkapi, tak perlu berlabel profesor atau bukan. Keduanya, yang jelas, mereka adalah orang-orang bijaksana. Mereka mencari jalan ke luar, bukan saling menutup agar jalan pikiran masing-masing buntu.

Tidak ada cara ampuh agar orang lain memiliki minat membaca, meskipun saya merepresentasikan hidup dari bacaan peristiwa dan teks dengan makna-maknanya. Kelak, waktu akan memukul telak, “Kau telah menyia-nyiakanku ketika itu.”

Kesadaran individulah yang akan mengantarkan seseorang untuk menjadi sosok seperti apa. Ia memilih jalan buntu atau terbuka. Pemikirannyalah yang akan menjadi damar atau sekadar arang, bahkan abu. Lentera tidak begitu saja terang. Selain meredup, ia juga menyala jika terjaga.  Semua hal tentang definisi apa pun berujung pada kepekaan yang agung. Jadi, siapa diri saat ini dengan waktu yang terus bergulir; tanpa ada istilah kini, sekarang, dan nanti, yakni sebuah titik yang menyadarkan diri itu sendiri dengan kualitas dan kebermanfaatan yang seberapa tinggi dan luas.

Tak ada kekalahan dan kemenangan di luar sana. Keduanya tidak sekadar memperebutkan tropi untuk mengetahui siapa yang juara. Kekalahan dan kemenangan adalah milik semua orang. Kau akan selalu kalah oleh raga, jika tidak, diledakkan dari dalam oleh jiwa. Kau dan kamu dapat berada di posisi subjek dan objek atau sebaliknya. Begitulah pertengkaran terdahsyat sepanjang manusia lalu-lalang di dunia. Kekalahan dan kemenangan, tergantung keputusan Sang Hakim ketika mengetukkan palu takdir. “Betapa anehnya petualangan itu, putaran takdir itu—menakjubkan, memalukan, seganjil mimpi-mimpi terliar!” sebelum satu jam berlalu, Aschenbach kembali larut dalam pemandangan yang mengundang duka (Thomas Mann, 2019, hlm. 67).  Manusia baru menemukan aku setelah ke luar dari dirinya. Tidak ada aku yang terpisah dari dunia. ‘Pusat diriku terletak di luar diriku’, yang menegaskan manusia adalah makhluk eksentris. Bukan berarti, aku menjadi aku baru kemudian ke luar. Begitulah Adelbert Snijder menjelaskan dalam bukunya Antropologi Filsafat Manusia (2004, hlm. 26). Kau hanya akan menemukan aku jika benar-benar telah jauh bertualang. Diskusi tentang karya Plato, Hari-Hari Terakhir Socrates: Euthyphro, Apology, Crito, Phaedo, terjemahan Hugh Tredennick, Harold Tarrant, dan Eleonora Bergeta. Saya menangkap makna seperti kalimat, “Tak ada yang bisa melukai seorang bijak, baik ketika ia hidup maupun setelah mati.”

Saya tanya seorang anak kecil di balik kostum badutnya, “Apa arti uang bagimu?” selembar uang kertas dimasukkan pada wadah bekas cat yang disodorkannya. Ia mengangkat kedua bahunya yang menandakan ketidakmengertian ia terhadap pendapatannya sendiri. Namun, ia bukan berarti tidak butuh materi yang ia pinta dengan mempertaruhkan rasa malu sebagai penebusannya. Meskipun berada di balik kostum, tanpa menampakkan wajah, tetap saja ia menahan panas dan sesak. “Jadi, jika kamu melihat seseorang tertekan saat menghadapi kematian,” kata Sokrates, “Itu merupakan bukti yang cukup menunjukkan bahwa dia bukanlah pecinta kebijaksanaan, tapi pecinta tubuh (seperti pecinta uang, misalnya) dan gengsi, salah satu atau keduanya.” Anak kecil itu berada di antara definisi dengan waktu yang belum disadari saat itu. Entah jika ia beranjak tumbuh dan berkembang kelak.

Menurut Yuval Noah Harari, Homo Sapiens tengah berusaha melampaui batas seleksi alam yang tengah mengubah setiap organisme hampir 4 milyar tahun di planet ini. Pada abad ke-21, revolusi tidak sekadar teknologi, melainkan hingga genetika dan robotik. Bahkan, Homo Sapiens dapat menggunakan multisains demi mewujudkan kecerdasan dan keliarannya. Ilmuwan-ilmuwan di Duke University, North Carolina, menunjukkan monyet-monyet resus yang otaknya telah ditanami elektroda. Elektroda tersebut mengumpulkan sinyal dari otak dan memancarkannya ke alat-alat eksternal. Monyet-monyet itu telah dilatih untuk mengendalikan lengan dan kaki bionik yang tidak tersambung melalui pikiran. Salah satu monyet bernama Aurora, belajar mengendalikan lengan bionik yang tidak tersambung hanya dengan pikiran sambil pada waktu bersamaan menggerakkan kedua lengan organiknya. Bagaikan Dewi Hindu, Aurora kini berlengan tiga, dan lengan-lengannya dapat terletak di ruangan, atau bahkan kota, yang berbeda (2014, hlm. 489).

Dari buku Googling Gutenberg, saya merasa diajak bertualang, tidak sekadar kelisanan dan keaksaraan semata, melainkan berkelana jauh ke masa lalu, kini, dan nanti.

Daftar Rujukan

Arsuka, N. (2017). Percakapan dengan Semesta. Yogyakarta: Penerbit Circa.

Briggs, A. & Peter, B. (2006). Sejarah Sosial Media: Dari Gutenberg Sampai Internet, terj. A. Rohman Zainuddun. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Dewayani, S. & Retnaningdyah, P. (2017). Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Djoko, D. S. (2018). Alih Wahana. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kurnia, A. (2019). Googling Gutenberg. Bandung: ITB Press.

Mann, T. (2019). Maut di Venesia, terj. Noa Dhegaska. Yogyakarta: Penerbit Circa.

Noah, H. Y. (2018). Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Ong, W. J. (2013). Kelisanan dan Keaksaraan, terjemahan Rika Iffati. Yogyakarta: Gading Publishing.

Plato. (2011). Hari-hari Terakhir Socrates: Euthyphiro, Apology, Crito, Phaedo, terj. Hugh Tredennick, Harold Tarrant, Eleonora Bergeta. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Snijders, A. (2016). Antropologi Filsafat Manusia: Paradoks dan Seruan. Yogyakarta: PT Kanisius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *