DARI KAMPUNG UNTUK INDONESIA

Oleh: Heri Maja Kelana

“Kami coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa”

Nukilan teks puisi Karawang Bekasi karya Chairil Anwar di atas banyak dijadikan spirit gerakan literasi sekarang. Rudiat Misalnya. Rudaiat yang lebih akrab dipanggil Mang Yayat ini membuat kegiatan yang konteksnya nasional dalam skala kampung. Artinya, gerakan yang dibangun oleh Mang Yayat bukan dalam lingkup lokal, namun nasional.

Pada kegiatan yang mengangkat tema “Dari Desa Untuk Indonesia” (20/9/2019) bagi saya sangat efektif untuk memberikan stimulus kepada masyarakat terkait literasi. Lebih dari itu, kegiatan ini dapat menginspirasi daerah-daerah lain untuk terus bergerak di akar rumput masing-masing (daerahnya).

Kabupaten Bandung, lewat gerakan yang dibangun oleh Mang Yayat bersama TBM Sehatinya akan terus berkembang. Terlebih FTBM Kab. Bandung yang diketuai oleh Mang Yayat sendiri begitu solid.

Di lain waktu, Festival Literasi Citarum (21/9/2019) yang digagas oleh Eddi Koben memberikan satu warna baru dalam dunia literasi di Kabupaten Bandung Barat. Eddi Koben mengangkat alam sebagai tema besarnya “Mengharumkan Citarum, Memberdayakan Masyarakat”.

Hasta Indriyana memberikan workshop menulis artikel untuk media massa tentang alam yang rusak. Baik pencemaran limbah yang masuk sungai Citarum, sampah, juga kerusakan alam lainnya. Literasi dapat dikaitkan dengan apa saja dan memang harus lebih aplikatif. Seperti yang sedang digagas oleh kawan-kawan di TBM Saung Eceng Saguling ini.

Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kab. Bandung Barat yang diketuai oleh Kiki Ginanjar terus menggelorakan serta mengajak masyarakat Kab. Bandung Barat untuk berliterasi.

Polemik Merosotnya Minat Baca Jawa Barat

Cecep Burdansyah membuat status yang di Instagram “Di Jawa Barat banyak gerakan literasi, tapi indeks Alihbaca yang keluar 2019..Jabar terpuruk..kalah oleh Maluku”. Postingan Cecep tersebut banyak yang mengomentari. Dari peggiat literasi, seniman, penyair, guru, dll.

Opik sebagai ketua FTBM Jawa Barat angkat bicara terkait postingan Cecep tersebut. “sinergitas dari dari pemerintah dengan TBM di kota dan daerah sangat kurang kuat. Semisal Pemda Jabar sampai sekarang belum merespon kegiatan yang sudah ada”.

Gerakan yang dilaksanakan oleh Taman Bacaan Masyarakat di Jawa Barat sudah berjalan dengan baik. Di setiap daerah, dari mulai Cirebon hingga Depok TBM mempunyai program untuk meningkatkan literasi di wilayahnya.

Literasi di akar rumput adalah literasi tanpa politik, mereka (relawan) dengan sabar dan penuh inovatif mengajak masyarakat untuk terus melek. Baik melek aksara, maupun yang lainnya. Literasi ini yang kemudian saya apresiasi tinggi.

Cecep Burdanyah hanya memandang literasi dari satu segi. Memandang literasi jangan dari satu segi, apalagi kompetisi. Literasi tidak boleh dibandingkan. Untuk kepentingan apapun. Sebab setiap daerah mempunyai budaya yang berbeda, kebutuhan yang berbeda, cara menangani masalah terkait literasi pun berbeda. Apabila literasi dibandingkan, bagaimana dengan orang suku-suku pedalaman seperti Baduy, Korowai, atau Mentawai misalnya. Mereka akan tetap dikatakan tidak literat.

Dua contoh kegiatan yang dilaksanakan di Kab. Bandung serta Kab. Bandung Barat saya kira memberi gambaran pergerakan literasi di akar rumput terus berkembang. Selalu hidup serta tidak pernah mati. Relawan-relawannya rela tanpa dibayar, bahkan menyumbangkan uangnya untuk kepentingan literasi bersama. Adapun hasil dari gerakan tidak dapat diukur hasilnya secara instan. Kerja belum selesai, belum apa-apa!   

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.