BERAWAL DARI KEPRIHATINAN HINGGA PENDIDIKAN KARAKTER

“Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada buku

Carilah buku itu, mari jatuh cinta”

(Najwa Shihab)

Ina T.S. Syamsuri adalah sosok dibalik lahirnya Taman Bacaan Masyarakat Rumah Baca Jatibening. Rumah Baca Jatibening (RBJ) sendiri hadir karena keprihatian terhadap anak-anak di sekitar. Ibu Ina menuturkan bahwa anak-anak sedang demam game online serta bermain play station. Kemudian ibu Ina sendiri survei ke beberapa Sekolah Dasar (SD) yang ada di sekitar, ternyata belum ada perpustakaan. Kebetulan, ibu Ina memiliki banyak buku-buku, maka dibuatlah Taman Bacaan Masyarakat.

Perempuan yang lahir di Bandung, 28 Maret 1961 ini tidak pernah lelah membangun literasi di daerahnya. Rumah Bacanya sempat dianggap tempat les, namun setelah membuat spanduk serta memperlihatkan foto-foto kegiatan, baru masyarakat tahu bahwa ini adalah Taman Bacaan Msayarakat yang di dalamnya bukan sekedar membaca semata, namun ada banyak kegiatan yang lainnya.       

Mengenalkan Buku Sejak Dini

Membacakan cerita pada anak-anak menjadi program unggulan di Rumah Baca Jatibening. Menulut ibu Ina, membacakan cerita ini efektif dalam memperkenalkan buku serta menstimulus minat baca. “awalnya membacakan cerita seminggu sekali, setiap hari Jumat. Namun sekarang menjadi setiap saat, karena anak-anak yang belum bisa baca dari pada ribut teu puguh (berisik tidak jelas), lebih baik dibacakan cerita. Besoknya anak-anak suka nanya buku yang kemarin dibacakan oleh saya. Cara efektif memperkenalkan buku serta menstimulus minat baca, ya dengan membacakan cerita. Jadi begini, mana mungkin si anak-anak tahu tentang isi buku atau rame atau tidaknya buku tanpa dibacakan dulu oleh kita. Ini konteknya dalam memperkenalkan buku pada balita yang memang belum bisa membaca”

Rumah Baca Jatibening fokus dalam menguatan minat baca, terlebih kepada kemampuan dasar literasi yaitu membaca serta menulis. Namun bukan berarti nilai-nilai yang lain tidak diperhatikan, seperti pendidikan karakter. Dari membaca, ibu Ina justru menerapkan nilai-nilai karakter terhadap anak-anak di Rumah Bacanya. Seperti awalnya anak-anak yang datang ke Rumah Baca sering berbicara kasar, namun sekarang kata-kata kasar itu sudah ditinggalkan. Serta muncul kata-kata ajaib (ibu Ina menyebutnya dengan sebutan kata ajaib) seperti maaf, tolong, permisi, dan terima kasih.

Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh ibu Ina ini patut diapresiasi oleh kita semua. Terlebih kegiatan-kegiatan yang dilaksanakannya sangat menginspirasi. Ini adalah gerakan nyata, bukan gerakan memfoto lalu memposting. Apabila setiap daerah mempunya sosok seperti ibu Ina, maka keyakinan saya terhadap meningkatnya minat baca sangat kuat.

Minat baca ini sangat penting untuk kemajuan bangsa Indonesia. Ibu Ina bersama Rumah Baca Jatibeningnya sedang mempersiapkan anak-anak dengan kualitas yang unggul di masa yang akan datang. Tentunya dibekali dengan pendidikan karakter yang kuat pula.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.