KUNINGAN BERCAHAYA

Oleh: Heri Maja Kelana

Kesabaran adalah mawar yang merambat

Lumut yang tak takluk karena salju

(Goenawan Mohamad, Don Quixote)

Ketika melakukan aktivitas, saya selalu ingat dengan larik puisi dari Goenawan Mohamad di atas. Karena aktivitas yang saya lakukan cukup menguras tenaga, pikiran, serta psikilogi. Oleh karena itu saya selalu bersabar. Semoga dari kesabaran dapat membuahkan hasil.

Berbicara kesabaran, pada bookshare FTBM Jabar (Rabu,21/08/19) H. Jaenal Mutakin atau lebih akrab dipanggil Kang Zeze berbagi pengalaman ketika menerbitkan buku  Kuningan Bercahaya (Penerbit CV. Matahari Pagi).

Posisi Kang Zeze sendiri adalah sebagai penggagas, kurator, editor serta penulis pada buku tersebut. Luar biasa.        

Bookshare kali ini terasa sangat istimewa karena bukan hanya berbagi isi dari buku semata, namun juga berbagi pengalaman proses penerbitan sebuah buku. Hal ini disampaikan oleh Kang Zeze sebagai narasumber.   

Kang Zeze membuka bookshare dengan mengutip kalimat dari Gol A Gong  “sudah saatnya rak-rak buku kita diisi oleh karya-karya kita bukan karya orang lain”. Sontak kutipan itu banyak sekali yang menanggapi. Untuk Kang Zeze sendiri kutipan itu menjadi spirit dalam berkarya.   

Tahun 2017 adalah tahun dimana riak-riak kepeulisan muncul di Kuningan. Terlebih dilaksanakan kegiatan  Gebyar Kunjungan Perpustakaan di Kab. Kuningan. Pada acara tersebut, Gol A Gong datang untuk mengisi workshop kepenulisan. Peserta yang hadir pun cukup banyak yaitu 130 orang.   

Setelah kegitan workshop, Gong merekomendasikan pada peserta lewat Kang Zeze untuk membuat buku yang kemudian diluncurkan pada kegiatan Word Book Day di Rumah Dunia.  

Kesabaran seorang H. Jaenal Mutakin di uji. Ia harus mengumpulkan penulis, kemudian mengedit naskah, serta membukukan haskah tersebut. Hasilnya adalah antologi esai Kuningan Bercahaya.    

H. Jaenal Mutakin yang pernah mengeyam pendidikan di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini tak pernah berhenti menularkan semangat literasi di Kuningan. Serta ia selalu bersinergi dengan siapapun terutama penerintahan.

Kuningan Bercahaya

Kang Zeze membagikan esai yang ditulis oleh Saiful Amri, M.Pd. yang berjudul Empat Titik Kosong. Pada esai tersebut, Saiful Amri bercerita tentang fenomena revolusi industri 4.0 yang gencar disosialisasikan oleh berbagai kalangan. Namun, Amri lebih menyoroti masih ada daerah (dalam hal ini sekolah) yang tidak memiliki signyal internet. Sehingga proses 4. 0 terganggu. Berikut adalah kutipan dari esai Saiful Amri. 

       Di era revolusi edukasi 4.0, para guru memanfaatkan teknologi canggih seperti berbagai aplikasi android. Para guru memiliki kemampuan yang setara dengan negara lain. Ruang belajar menjadi tak terbatas. Lingkungan sekolah, ruang kelas, ruang multimedia dilengkapi spot-spot wifi. Sumber belajar menjadi tak terbatas hanya pada buku atau sumber cetak lainnya. Sekolah menjadi tempat yang dirindukan oleh siswa.

       Salah satu cara agar pembelajaran bisa memasuki era edukasi 4.0 adalah dimulai dari gurunya. Guru aktif mengikuti pelatihan yang berkenaan dengan implementasi revolusi industri 4.0. Guru mampu memanfaatkan aplikasi online maupun offline. Salah satu kelas yang membawa guru untuk memasuki revolusi industri 4.0 adalah Kelas Virtual Coordinator Indonesia. Kelas ini didukung oleh Seameo Semolec. Di kelas ini terdapat beberapa mentor handal yang dapat membimbing para guru.

Bookshare berjalan ramai, hingga tidak terasa waktu menunjukan pukul 22.48 WIB. Sudah saatnya narasumber untuk menutup kegiatan dengan simpulan atau kata-kata yang merujuk pada motivasi. “Menulis Buku sama dengan melahirkan bayi” saya kira itu kalimat penutup dari Kang Zeze sebagai narasumber.   

Kemudian apa hubungannya kesabaran di atas tadi? Kesabaran pada kontek ini adalah proses dari mulai tidak bisa menulis jadi bisa menulis. Kedua adalah proses penerbitan buku. Lebih jauh dari itu, menularkan semangat berliterasi butuh kesabaran yang sangat kuat. Karena tidak semua orang dapat didekati dengan mudah. Saya selalu menyebutkan bahwa aktivis literasi mengemban tugas yang mulia, karena ia tanpa pamrih membumikan literasi dari kalangan anak-anak hingga kalangan orang tua. Serta mereka tidak pernah lelah.

Selalu ada hal unik dan menarik ketika melaksanakan praktik-praktik berliterasi. Kang Zeze sudah membuktikannya, bagaimana kawan-kawan yang lain? Salam Literasi

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.