DARI LADANG JAGUNG: CERITA DIBALIK SUKSESNYA TBM MA’MURINA

Bermula dari keresahan yang dirasakan Savitri terhadap anak-anak SMP yang tidak lancar dalam membaca, lalu berinisiatif untuk membeli beberapa buku cerita yang kemudian digelar pada lapangan terbuka. Dari sanalah Taman Bacaan Ma’murina terbentuk.

Savitri Mutia Agustine, adalah tokoh intelektual di balik kesuksesan yang diraih oleh Taman Bacaan Masyarakat Ma’Murina. Ia tak henti-hentinya bergerak untuk literasi di Sukabumi.  

Savitri Mutia Agustine sendiri lahir di Bandung. Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kependidikan (STKIP) Siliwangi, Bandung. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2002. Perempuan yang sempat mengikuti residensi di Adelaide, Australia pada tahun 2013 ini sangat menyukai pendidikan.  

Bergerak dan Terus Berkembang

Sejarah berdirinya TBM Ma’murina, di awali  dari dua orang  anak tetangga yang selalu minta ditemani membuat PR. Kemudian atas dasar kondisi anak-anak di sekitar kampung warung kalapa yang tidak memiliki tempat bermain. Lalu kerap mendapati anak yang masuk SMP namun belum lancar membaca.

Melihat kondisi tadi Savitri bersama suami, membeli 20 buah buku cerita bergambar dan dibiarkan beredar di lapangan kering yang awalnya kebun jagung. Anak-anak mulai berdatangan dan menanyakan, “apakah ada buku baru lagi?”. Saat itu Savitri gunakan kesempatan ini untuk menjaring anak-anak usia sekolah yang belum bias membaca. Serta kegiatan belajar membaca pun terus berlangsung hingga sekarang.

Belakangan TBM Ma’murina terus berkembang, serta dibelaki dengan 6 literasi dasar. Namun literasi baca tulis tetap menjadi dasar semua kegiatan yang ada di TBM.

Dalam pantauan Savitri dalam melihat kondisi lingkungan, sepertinya literasi finansial mendesak untuk diterapkan. Hal ini disebabkan karena kebanyakan orang tua dari anak-anak sibuk untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari mereka yang serba kekurangan.  Kebutuhan ekonomi yang cukup mendesak menjadi perhatian Savitri bersama suami. Ditambah munculnya BANK EMOK (nama keren dari rentenir atau bank keliling) semakin memperburuk kondisi yang ada. Tidak jarang jatah dana pendidikan anak-anak yang diberikan pemerintah melalui KIP (Kartu Indonesia Pintar), dengan dengaja dijaminkan oleh beberapa orang tua yang menjadi nasabah setia Bank Emok.

Kegiatan rutin dari TBM Ma’murina adalah membaca, belajar membaca quran, pengajian dan salawatan, berkreasi dengan barang bekas, peringatan hari-hari besar nasional dan keagamaan. Dalam penguatan literasi finansial, Savitri mengadakan pembiasaan menabung dengan membagikan celengan plastik secara gratis pada anggota. Mereka boleh membawa pulang celengan tersebut atau menyimpannya di taman bacaan dan mengisinya setiap kali mereka datang. Hasilnya beberapa anak sudah paham tentang manfaat menabung dan mereka juga diperkenalkan pada macam-macam nilai mata uang dan nilai transaksinya, juga cara mengelola keuangan sederhana.

Pada literasi finansial ini pula, Savitri sudah berencana membuka unit wirausaha yang akan melibatkan pemuda dan orang tua, dengan harapan dapat mendatangkan penghasilan tambahan dan perlahan mengikis kebiasaan mereka berurusan dengan Bank Emok.

TBM Ma’murina memiliki program unggulan yaitu mengaji selepas Magrib. Program ini selaras dengan  ajakan Gubernur Jawa Barat tentang kegiatan “Mengaji Selepas Magrib”. Serta sesuai dengan moto TBM “Adab dahulu, ilmu kemudian”.

Selain program-program yang dilaksanakan di TBM Ma’murina, tim pamatriliterasi.com menanyakan susah senang dalam mengurus TBM. Bagi Savitri, anak-anak yang datang ke TBM adalah rezeki dari Allah. Mereka datang tanpa diajak atau dipaksa. Antusiasme masyarakat itulah yang membuat Savitri bersama suaminya terus semangat bergerak demi kemajuan literasi. Namun artinya apakah Savitri tidak memiliki kesedihan dalam menulis? Tidak juga. Belakangan Savitri dipusingkan dengan stok bahan bacaan yang sudah menipis serta sudah lama. Karena kita semua tahu bahwa TBM tidak memiliki donator yang tetap atau selalu dapat bantuan dari pemerintah.  

Meski tanpa bantuan, Savitri terus rela mengeluarkan uang sendiri hanya untuk memberikan sesuatu ditempat ia memukim sekarang. Bagi tim pamatriliterasi.com, perjuangan yang dilakukan oleh Savitri dengan TBM Ma’murinanya sangat luar biasa.  Oleh karean itu, wajar ketika prestasi berdatangan seperti pendampingan TBM oleh Dompet Duafa Pendidikan, Pelatihan Kewirausahaan Sosial  yang diselenggarakan oleh British Council, penyuluhan-penyuluhan oleh lembaga-lembaga kesehatan, pendidikan karakter bersama Panglima Integritas dari KPK, sharing-sharing keterampilan dan kerjasama dengan instansi-instansi di sekitar TBM, dll.

Savitri tidak mau menjadikan TBM menjadi TBM yang biasa-biasa saja, oleh karea itu ia tidak pernah lelah untuk terus bergerak membuat kreativitas-kreativitas baru dalam dunia literasi. dan hasilnya Taman Bacaan Masyarakat Ma’murina menjadi taman bacaan keren. Serta Ibu Savitri juga di kenal oleh masyarakat serta para penggiat literasi.

Tidak ada taman yang paling indah dari Taman Bacaan Masyarakat.

Salam     

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.