“Hei, apakabar bantal lapuk yang sudah bau?”

Dari beberapa buku yang tertera

di rak yang nampak tidak rapih. Buku dari atas

kardus, tidak berani menyapanya.

Karena mereka masih baru, menghuni tempat ini. 

“Oh, kau para buku. Aku masih baik.

Aku tidak bau. Hanya penampilanku saja

yang lusuh. Maklum, setelah dicuci

dan dijemur siangnya, malamnya dipakai lagi.”

Timpal satu bantal biru yang sedang memberikan pernyataan.


Seperti malam-malam biasanya

selama setahun lebih ini, tertidur dengan mereka

yang sering berinteraksi. Terkadang pintu rumah

dan tirai jendela pun ikut berdialog

diantara mereka, hingga aku tertidur pulas.

Dan, malam harinya seperti itu lagi.

Antara si bantal dan si buku sering sekali berdialog. 
Si buku pernah iri terhadap bantal.

Dia juga ingin tidur denganku.

Terkadang bila aku sedang membaca buku,

lalu terlarut dalam mimpi.

Si buku yang duluan mengucapkan

selamat pagi terhadapku. Kini, bila malam tiba,

ada juga suara-suara gaduh

dari atap ruangan ini. Itu, kawanan tikus,

yang hilir mudik mencari makanannya.

Ya, makanan untuk dirinya dan keluarga mereka.

Tapi, terkadang suka dimakan

sendiri saja bila menemukan makanan. Dasar tikus!

Menyelinap dengan terang-terangan. 
Untung saja, para buku tidak kau lahap semua.

Bisa-bisa keblinger. Hahahaha!
Selamat tidur temanku.

Para buku yang tidak tersusun rapih.

Selimutku yang tidak lembut lagi.

Kedua bantalku yang lusuh.

Kasur tipis yang semakin menipis,

dan kau obat nyamuk. Jangan mimpi indah.

Biar tikus di atap sana yang mimpi indah!

Sumedang, 26 November 2017

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.