DARI BOOKSHARE HINGGA ESAI

Oleh: Heri Maja Kelana

Setiap Rabu malam, tepatnya pukul 21.00 WIB,  Forum Taman Bacaan Masyarakat Jawa Barat (FTBM Jabar) mengadakan Bookshare. Bookshare sendiri berbagi pengalaman dari bacaan yang telah dibaca oleh seorang yang menjadi narasumber di kegiatan ini. Bertujuan untuk berbagi cerita, semangat untuk terus membaca, percaya diri, serta tentunya lebih jauh lagi melatih pikiran kita dialihkan ke dalam bentuk tulisan (menulis) untuk para pegiat TBM di Jawa Barat.

Para pegiat TBM bukan hanya sebagai fasilitator buku semata. Atau bahasa sarkasnya meminta-minta buku. Jauh dari itu, banyak sekali yang harus dilakukan para pegiat literasi di TBM sebelum menularkan ilmu-ilmunya pada anak didik atau kawan-kawannya di Taman Bacanya masing-masing. Bookshare salah satu solusi.

Bookshare dapat memberikan stimulus bahkan pengetahuan. Ini cara yang tepat diterapkan oleh TBM untuk menambah wawasan serta saling tukar pikiran yang lahir dari sebuah buku yang notabene sebagai sumber ilmu.

Membaca sangat penting, menulis tak kalah pentingnya juga. Dengan banyaknya membaca, apakah secara otomatis kita dapat menulis? Saya bilang tidak juga. Menulis dan membaca adalah disiplin ilmu yang berbeda. Namun kedua kata ini saling berkaitan.

Bookshare dapat melatih kepercayaan diri kita dalam menulis. Karena menulis selalu diawali dengan cerita dan pengalaman  empirik (curhat). Menulis sendiri dapat dikatakan mudah apabila kita sudah tahu celah-celah atau teknik dalam menulisnya. Hal itu hanya dapat dilalukan dengan seringnya kita melatih untuk menulis.

Saya ambil contoh esai hasil dari Bookshare(Rabu/14/08/19) dari bukunya M Aan Mansyur yang berjudul Tidak Ada New York Hari Ini.

Pada Bookshare tersebut saya bertindak sebagai narasumber atau pemberi pengalaman dari apa yang sudah saya dapatkan ketika membaca buku tersebut.  

Wilayah Antara Puisi Batas

Cinta selalu membuat manusia sakit hingga tersungkur dan kalah

Namun masih banyak orang yang selalu membutuhkan cinta

(Slavoj Zizek)

Aan Mansyur salah satu dari banyak pemuda yang menurut saya baik dalam membaca. Ia sangat khusuk dan suntuk dalam membaca. Baik membaca secara mikro maupun makro.

Membaca mikro adalah membaca pada umumnya membaca seprti membaca buku, koran, majalah,dll. Sedangkan membaca makro adalah membaca realitas sosial, budaya, manusia, alam,dll. Dari kedua pembacaan itu kemudian lahir karya yang bagi saya cukup kuat untuk mewakili generasi sastra kontemporer.

Karya-karya Aan jernih dan mengalir. Metaforanya segar. Tidak sedikit pula memberikan kejutan-kejutan diksi disetiap larik puisinya.

Saya tidak sedang memuji Aan, tetapi saya melihat karya yang ditulis oleh Aan. Berikut puisi yang berjudul Batas dalam kumpulan puisi Tidak Ada New York Hari Ini.  

BATAS

Semua perihal diciptakan sebagai batas.

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain.

Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok

batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan

deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara

dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh

tempat di mana pernah ada kita.

Bandara dan udara memisahkan New York

dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia

yang menanti di jantung puisi inidipisah

kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut

dalam antara pulang dan seorang petualang

yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan

dihalang uang dan undang-undang.

Seorang ayah membelah anak dari ibunya –

dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding

di antara aku dan ketidakwarasan. Persis

segelas kopi tanpa gula memjauhkan mimpi

dari tidur.

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu,

jurang antara kebodohan dan keinginanku

memilikimu sekali lagi.       

Puisi ini memiliki empat bait. Saya menemukan adanya repetisi (pengulangan) tema pada setiap baitnya, yaitu jarak. Teknik repetisi yang dilakukan oleh penyair sangat diperhitungkan atau dikonsep. Hal ini dilakukan tidak lain untuk menyihir pembaca lewat pengulangan-pengulangan.

Pada bait pertama, aku lirik mendeskripsikan filosofi dari batas. Kemudian diterjemahkan dalam hari, serta jarak bangunan satu dengan lainnya. Sedangkan pada bait kedua menseskripsikan tempat dengan dengan sesuatu yang lain. Seperti yang penyair tuliskan Bandara dan udara. Sesuatu yang lain tadi saya sebutkan adalah udara. Udara dipandang oleh aku lirik sebagai jarak. Bisa saja sebenarnya menuliskan bandara dan laut atau bandara dan jalan. Namun penyair memilih udara. Lagi-lagi penyair ksusuk dalam memilih diksi. Bandara dan udara adalah satu isotopi. Begitu pula Jakarta dan New York. Bisa saja sebenarnya menuliskan Jakarta dan Amerika, ini lebih enak dibaca karena terdapat asonansi (bunyi akhir). Aan memilih kota dengan kota. Kedua kata itu setara. Apabila kota dengan negara, maka kata itu tidak setara.

Pada bait ketiga, aku lirik lebih mengerucutkan permasalahan jarak pada wilayah personal. Atau psikologi. Antara ibu dan bapak. Apabila diawal mendeskripsikan jarak bangunan dengan bangunan, kemudian jarak dengan sesuatu yang lain, lalu ini jarak antara psikologi manusia dengan manusia.

Bait terakhir adalah pertanyaan yang signifikan pada diri aku lirik. Semua jarak yang tadi telah dilewatinya, ternyata jarak yang susah untuk dicapai adalah jarak diri dengan diri. Atau lebih sederhananya antara hati dengan pikiran.

Dari keterbatasan pengalaman saya terhadap puisi-puisi Aan Mansyur, saya memberanikan diri untuk meenulis beberapa pemahaman terhadap jarak yang saya temukan pada puisinya.

Pertama adalah jarak teritori. Atau jarak yang sebenarnya jarak. Jarak antara Bandung ke Jakarta, atau Jakarta dengan New York.

Kedua adalah jarak psikologis. Jarak psikologis adalah jarak seseorang dengan seseorang lagi atau bahkan dengan dirinya sendiri. Jarak psikologis ini yang kemudian menghidupkan yang namanya “rindu” atau “kangen”.

Ketiga adalah jarak budaya. Pada jarak ini hubungan aku dengan tanah kelahiran atau tanah yang membesarkannya (tempat kelahiran kedua, proses kreatifnya).

Keempat adalah jarak magis. Jarak ini yang kemudian berkaitan pula dengan jarak psikologis. Hubungannya antara real dan tidak real. Atau yang berhubungan dengan transcendental.

Kira-kira seperti itu pengalaman saya membaca puisi-puisi Aan. Banyak sekali tafsir terhadap satu puisi, karena puisi yang berhasil adalah puisi yang banyak membukakan pintu dan kita bisa masuk keberbagai dunia.    Kembali pada Bookshare, saya kira program ini bagus. FTBM Jabar harus mempertahankannya, bahkan bila perlu lakukan di setiap TBM yang ada di Jawa Barat. Sebab penggiat literasi bukan oprator yang selalu posting foto-foto semata. Pengiat literasi harus lebih terdepan dalam segala bidang. Bookshare adalah salah satu cara untuk menjadi yang terdepan.        

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.