SAYA MULAI MENULIS

Oleh: Atep Kurnia

Penasaran dengan tulisan yang pernah dihasilkan sekaligus hendak mengiventarisasinya, saya menghimpun datanya dalam sebuah tabel. Ternyata hingga 20 Maret 2019, saya sudah menulis paling tidak 566 tulisan, dengan tulisan terakhir bertitimangsa 27 Desember 2018-2 Januari 2019. Alhasil, tulisan sejak Januari 2019 sampai kini belum dimasukkan, sehingga kemungkinan sekarang sudah mencapai 600-an. Itu pun tidak termasuk buku-buku bersama penulis lain yang jumlahnya mencapai puluhan judul maupun buku sendiri.

Karya tulis berupa hasil liputan, sajak, cerpen, fiksimini, dan artikel, baik yang asli maupun terjemahan. Ratusan tulisan tersebut saya tulis sejak 2003. Salah satu faktor yang memungkinkan saya produktif antara lain bahasa yang digunakan, dalam artian sejak awal saya sudah menulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan Sunda.

Faktor lainnya adalah medianya. Sejak awal menulis hingga mulai merebaknya media digital, masih banyak media cetak tempat mengasah kemampuan penulis dari luar. Tidak seperti sekarang, media cetak sangat membatasi ruang berkarya bagi penulis luar, seiring persaingan dengan media digital serta transformasinya ke arah media digital. Meskipun banyak juga media digital yang menerima karya dari luar.

Kembali ke kumpulan tulisan saya, bila dikelompokkan, sebenarnya kebanyakannya berupa artikel. Yang berbahasa Indonesia dimuat pada Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kompas, Galamedia, Inilah Koran, Geomagz, Berita Geologi, Buletin Geologi Tata Lingkungan, dan lain-lain. Sementara yang berbahasa Sunda dimuat pada majalah Cupumanik, Mangle, Galura, Seni Budaya, Ujung Galuh, Pikiran Rakyat, dan lain-lain.

Kemudian soalnya, apa yang mendorong saya aktif menulis, khususnya artikel? Jawabannya tentu membaca. Membaca adalah modal dasar menulis, sehingga dapat dikatakan menulis tanpa membaca adalah omong kosong.

Dengan jalan membaca, saya menjadi tahu informasi, mengetahui pengalaman, pemikiran, dan perasaan orang lain tidak atau belum saya alami sendiri. Dengan banyak membaca, saya juga bisa belajar berpikir logis dan sistematis. Belajar berpikir logis dalam pengertian berpikir secara benar sesuai dengan hukum penalaran, misalnya berpikir dari umum ke khusus, dari khusus ke umum, sebab-akibat atau akibat-sebab. Sementara belajar berpikir sistematis mengandung arti dapat mengetahui, memahami, menganalisa fungsi-fungsi bagian untuk keseluruhan dan keseluruhan tercermin dalam bagian, serta pertalian di antara keduanya, sehingga tercipta sebuah tata (order).

Sebagai modal menulis, kegiatan membaca memang telah saya miliki sejak kecil, bahkan sebelum memasuki bangku sekolah dasar. Meskipun keluarga saya tidak kaya dan tidak berpendidikan, tetapi saya beruntung karena mempunyai tetangga yang berpendidikan. Dalam kesempatan bermain ke rumah-rumah tetangga tersebut, saya sering melihat-lihat pustaka yang ada di rumah mereka.

Pada mulanya memang saya lebih tertarik kepada gambar-gambar yang tersaji pada buku, majalah, atau koran. Dan ternyata kenangan semasa kecil berkenalan dengan pustaka tersebut terus membekas di dalam diri saya, sehingga pada gilirannya saya kemudian mempunyai hobi membaca dan mengumpulkan pustaka yang menurut saya menarik. Mula-mula mengenai pengetahuan umum yang dimuat dalam koran dan majalah yang saya kumpulkan dan buatkan klipingnya.

Ternyata kebiasaan itu juga mendorong saya terbiasa mencatat. Ya, yang saya kumpulkan, itulah yang saya tulis ulang pada buku catatan. Awalnya yang dicatat berupa pengetahuan umum seperti nama-nama ibu kota negara-negara luar, termasuk mata uang, presiden, dan perdana menterinya. Kemudian, kebiasaan mencatat itu ditambah dengan bertanya kepada orang-orang tua mengenai folklor Sunda. Untuk menunjangnya, bahkan saat SMP saya pernah meminjam kamus bahasa Sunda kepada seorang kawan untuk menulis ulang hal-hal menarik. Antara lain saya pernah mencatat tatarucingan, sisindiran, jangjawokan, dan kakawihan dari narasumber di lingkungan kampung saya.

Walhasil, bila dipikirkan sekarang, itulah nampaknya yang menjadi dasar bagi saya untuk bergelut dan bergulat di dunia penulisan. Oleh karena dasarnya suka membaca, waktu bekerja sebagai buruh pabrik tekstil selepas sekolah SMA pada tahun 1998 hingga 2006, saya bertanya kepada diri sendiri: Apakah kegemaran membaca dapat menghasilkan sesuatu?

Jawabannya, ternyata dengan pergaulan. Bersama kawan-kawan di Cicalengka, lahirlah gagasan untuk menerbitkan majalah lokal Bilik, yang hanya terbit satu edisi, yaitu pada Juni 2003. Namun, karena menjadi kontributor, itu memaksa saya belajar menulis, sehingga menghasilkan tiga tulisan dalam Bilik, yakni cerpen “Upal”, artikel berbahasa Sunda “Akub Sumarna (Teu Weléh) Nyoréang Mangsa ka Tukang” meskipun tidak rampung, dan liputan bertajuk “Cicalengka, Kota Ojég Nasional?”

Dengan pergaulan pula, saya bisa berkenalan dengan para penulis di Bandung. Karena saya sering pergi ke Bandung untuk membeli pelbagai bacaan serta memasuki klub buku yang diselenggarakan Penerbit Kiblat Buku Utama pada awal tahun 2000-an. Penerbit tersebut menerbitkan newsletter “Lalayang Girimukti” yang menjadi embrio majalah Sunda Cupumanik.

Oleh Kang Hawe Setiawan, pengelola klub buku dan pemimpin redaksi Cupumanik, saya didorong untuk menulis dalam bahasa Sunda. Akhirnya, mewujud pada edisi perdana Cupumanik (Agustus 2003), berupa resensi buku Sunda Saijah jeung Adinda karya RTA Sunarya. Judul tulisannya “Nu Pateuh jeung Teu Adeuh”. Atas jasa Kang Hawe pula, saya mulai menulis untuk Pikiran Rakyat. Saat itu, saya belum tahu e-mail dan draf tulisan saya yang disimpan dalam disket. Dengan menyalinnya ke komputer di Cupumanik, Kang Hawe mengedit serta mengirimkan tulisan tersebut ke Pikiran Rakyat dan dimuat dengan judul “Menguatnya Pembajakan” pada Selasa, 23 Desember 2003.

Itulah dasar-dasar yang melatari produktivitas saya dalam menghasilkan tulisan.  Dengan kegemaran membaca, mengumpulkan buku, memiliki kebiasaan mencatat, berani bertanya kepada orang lain, serta bergaul dengan para penulis yang sudah jadi, saya belajar menulis dan terus mengasah kemampuan tersebut hingga kini.

Cikancung, 2 Agustus 2019          

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.