Literasi dan Kegilaan Mulia

Filistinisme adalah sebuah sikap yang tidak menghargai produk kebudayaan berupa seni dan sastra. Sebagai aktivis literasi yang selalu beririsan dengan produk kebudayaan berupa seni dan sastra, serta garda depan perubahan, mengajak masyarakat untuk terus dan terus mencintai seni dan sastra


Oleh: Heri Maja Kelana

Bangsa Fenisia adalah bangsa yang diakui telah menemukan adjad. Namun bangsa tersebut tidak menghasilkan karya sastra yang berkualitas. Penemuan abjad sendiri dipergunakan untuk memenuhi catatan transaksi jual beli (perdagangan). Sehingga bangsa Fenisia tidak banyak tercatat oleh sejarah. Hemat saya, literasi yang tengah digencarkan lewat kantong-kantong berupa Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menyentuh pada wilayah seni dan sastra. Jangan menjadi masyarakat yang filistinisme.

Sastra sebagai katarsis filistinisme

Filistinisme adalah sebuah sikap yang tidak menghargai produk kebudayaan berupa seni dan sastra. Sebagai aktivis literasi yang selalu beririsan dengan produk kebudayaan berupa seni dan sastra, serta garda depan perubahan, mengajak masyarakat untuk terus dan terus mencintai seni dan sastra. Filistinisme telah terbukti oleh bangsa besar seperti Fenisia hancur serta hilang dari sejarah. Menulis sastra adalah salahsatu cara menjaga kebudayaan.

Edgar Allan Poe pada zamannya dianggap gila karena karya-karyanya tidak sesuai dengan para penulis pada zamannya. Begitu pula dengan Arthur Rimbaud. Namun belakangan, karya mereka diperkenalkan pada anak-anak sekolah. Di Indonesia sendiri ada yang namanya Sutardji Colzoum Bachri yang dianggap menyimpang dari zona nyaman penulis puisi pada masa itu. Puisi-puisi Sutardji dianggap ngawur, tidak sesuai dengan khaidah bahasa. Lebih jauh lagi, kita kenal dengan Chairil Anwar yang mendekontruksi pantun menjadi puisi modern yang sekarang kita tulis. Mereka yang disisihkan dari zamannya, namun mereka justru menjadi sastrawan besar.

Maksud saya, bukan semua aktivis literasi itu harus menulis puisi atau karya sastra lainnya, namun ada kesadaran untuk menulis sastra di TBM masing-masing. Supaya tidak seperti apa yang telah dicontohkan oleh bangsa Finisia.

Eco dan antilibraly

Sekitar tahun 2006-2007 saya menemukan buku novel “The Name Of The Rose” yang ditulis oleh seorang sastrawan bernama Umberto Eco di pameran buku Braga. Awalnya saya hanya tahu bahwa Eco adalah seorang penulis novel, namun beliau adalah seorang ahli semiotik ternama. Semakin penasaran, saya kepo terhadap sosok Eco ini.

Umberto Eco mempunyai perpustakaan pribadi, ia memiliki 30 ribu judul buku di perpustakaannya. Apa yang pembaca pikirkan? Hebat! Atau wow!. Mari sebentar kita bayangkan.

Stadion Si Jalak Harupan saja apabila penuh semua oleh penonton hanya 27 ribu. Buku-buku Umberto Eco lebih dari kapasitas stadion Si Jalak Harupat. Mari kita bayangkan kembali. Gila! Atau keren!.

Pertanyaan besarnya adalah bagaimana Eco membaca itu semua? Ternyata Eco tidak membaca semua atau lebih tepatnya belum sempat membaca semua sampai akhir hayatnya. Buku-buku yang belum dibaca oleh Umberto Eco kemudian disebut antilibraly.

Eco menyelamatkan sebuah pemikiran yang luar biasa lewat pendokumentasian di perpustakaan pribadinya. Betapa mulianya ia. Di Indonesia ada sosok HB. Jassin serta Ajip Rosidi yang tak kalah gilanya dari Umberto Eco. Mereka adalah pahlawan yang terus menyambungkan spirit intelektual dari generasi ke generasi. Spirit-spirit orang hebat seperti beberapa yang saya tulis di atas harus menular pada aktivis literasi yang berada di seluruh pelosok Jawa Barat khususnya, Indonesia lebih besarnya. Sebab negara yang kuat adalah negara yang di mana masyaraktnya sebagai masyarakat pembaca.      

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *