ENTROPI BAHASA DI ERA MILENIAL

Gaya hidup pada komunikasi modern telah menuntut percepatan bahasa para penggunanya. Bahasa dibuat sedemikian rupa menjadi bentuk paling kecil. Konsep bentuk bahasa yang dikecilkan muncul ketika pengguna ingin berkomunikasi secara cepat.

Oleh: Heri Maja Kelana*

Akses informasi serta komunikasi di zaman modern ini sangat luar biasa. Hal tersebut dapat kita katakan sebagai kemajuan komunikasi. Pada awalnya komunikasi dapat dilakukan dengan bertemu wajah (face to face). Ada pun komunikasi jarak jauh dengan menggunakan surat yang dikirim melalui pos atau orang tertentu yang ditugaskan untuk mengantarkan surat. Komunikasi tersebut saya namakan dengan komunikasi tradisional.

Di zaman modern, setelah kemajuan teknologi semakin pesat, banyak ragam komunikasi. Misalnya twitter dan facebook.. Twitter dan facebook adalah bentuk komunikasi di dunia maya yang banyak penggunanya. Para pengguna tinggal duduk depan komputer atau laptop kemudian dapat berbicara dengan orang lain diseluruh dunia.

Selain twitter dan facebook, ada pula yang dinamakan dengan short message service serta Whatsapp sebagai komunikasi modern.

Entropi Bahasa 

Gaya hidup pada komunikasi modern telah menuntut percepatan bahasa para penggunanya. Bahasa dibuat sedemikian rupa menjadi bentuk paling kecil. Konsep bentuk bahasa yang dikecilkan muncul ketika pengguna ingin berkomunikasi secara cepat. Kode bahasa yang disampaikan akan dapat dimengerti oleh penerima apabila penerima telah mengerti kode dari pengirim. Artinya dalam berkomunikasi tidak ada miss. Namun apabila penerima tidak mempunyai referensi terhadap kode yang dikirim oleh pengirim, akan terjadi miss dalam berkomunikasi.

Entropi bahasa yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah keseimbangan bahasa yang terjadi di zaman modern. Sebenarnya kata entropi sendiri digunakan dalam bahasa fisika yaitu “keseimbangan termodinamis, terutama mengenai perubahan energi yang hukumnya disebut hukum termodinamika kedua yang menyatakan bahwa semua energi hanya dapat berpindah dari tempat yang mengandung banyak energi ke tempat yang kurang mengandung energi”. Pada bahasa entropi saya kaitkan pada makna.

Pergeseran bahasa yang terjadi dalam komunikasi modern banyak berpengaruh terhadap birokrasi bahasa. Birokrasi bahasa yang telah dibakukan oleh lembaga bahasa (Pusat Bahasa) yang tertuang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sehingga banyak sekali miss ketika berkomunikasi. Kmrn, krmn, bk, dr, tgn, skl, bsk, dll. unit kalimat yang dikecilkan tersebut dapat dapat menimbulkan interpretasi terhadap makna yang disampaikan.

Unit bahasa yang dikecilkan menjadi masalah yang serius dalam bahasa Indonesia. Mengapa saya mengatakan serius, karena belum ada penanganan secara resmi dari Pusat Bahasa dan sudah beredar di masyarakat. Masyarakat memang tidak mempersoalkan, tetapi masyarakat juga perlu tahu tentang birokrasi bahasa yang sudah dibakukan supaya tidak terjadi kesalahan ketika berkomunikasi. Masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang tahu dengan ruang dan waktu ketika menggunakan bahasa.      

Dalam disiplin ilmu Bahasa Indonesia memang ada yang dinamakan dengan pragmatik. Pragmatik ini dapat membantu penerima kode dalam menafsirkan bahasa. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah Pusat Bahasa tidak melirik dengan fenomena yang terjadi belakangan ini. Milalnya “kmrn”, “dr”, “bk”, kata tersebut dapat diartikan menjadi kemarin, dari, dan buku. Namun ada pembentuk kalimat sebelumnya yang yang ditulis pengirim dengan kode seperti di atas tidak meuju pada arti kemarin, buku, dari. Misalnya pada kalimat sms “bsk pg tk bk jam 09.00 wib”, “bk” bukan merujuk pada buku melainkan buka. Kalimat tersebut dapat menimbulkan interpretasi “besok pagi toko buka jam 09.00 wib” atau “besok pagi taman kanak-kanak buka jam 09.00 wib”. Pada kalimat tersebut tidak ada yang menggunakan huruf kapital, sehingga membuat penerima akan memutar kepala dalam mengartikan kalimat tersebut. Begitu pula dengan “dr rajiman mnju sethiabudi mct, syng”, “dr” ini diartikan menjadi “dari rajiman menuju setiabudhi macet, sayang” atau dapat pula diartikan “dokter rajiman menuju setiabudhi macet, sayang”.

Kasus yang terjadi pada komunikasi modern menjadi problematik dalam bahasa Indonesia. Namun masyarakat tidak tahu menahu dengan yang dinamakan problematik bahasa, mereka hanya pengguna bahasa. Serta entropi yang saya jadikan judul dapat menjadi perhatian yang serius ahli-ahli bahasa terutama Pusat Bahasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *