Lapat di Tata Pustaka

Dengan demikian, naskah ini menjadi salah satu bukti bahwa ternyata orang Sunda pada hakikatnya “teu kurung batokkeun”, alias bukan katak dalam tempurung

Atep Kurnia

Kata-kata yang menjadi judul tulisan ini diambil dari naskah Sunda kuno bertajuk Bujangga Manik (“The Story of Bujangga Manik: A Pilgrim’s Progress”). Naskah Sunda kuno ini berasal dari Inggris dan disimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris. Koleksi ini berawal dari hibah saudagar Andrew James pada 1627 atau 1629.

Kata-kata yang menjadi judul tulisan ini diambil dari naskah Sunda kuno bertajuk Bujangga Manik (“The Story of Bujangga Manik: A Pilgrim’s Progress”). Naskah Sunda kuno ini berasal dari Inggris dan disimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris. Koleksi ini berawal dari hibah saudagar Andrew James pada 1627 atau 1629.

Naskah ini berpusat pada tokoh Bujangga Manik. Ia adalah seorang tohaan atau pangeran dari Keraton Pakuan di Cipakancilan, Bogor, pada abad ke-15 dan awal abad ke-16. Ia lebih memilih hidup sebagai rahib pengelana daripada menjadi penguasa. Ia melakukan perjalanan dua kali mengelilingi Pulau Jawa dan Bali. Mula-mula, berangkat ke Jawa Timur, selanjutnya pulang ke Pakuan melalui jalan laut dengan menumpang kapal yang berlayar dari Malaka. Kedua kali, Bujangga Manik kembali mengembara ke Jawa Tengah, Jawa Timur, lalu menyeberang ke Bali. Setelah pulang, ia memilih hidup memencilkan diri dengan bertapa di sebuah gunung di Tatar Sunda hingga mencapai moksa.

Dengan demikian, naskah ini menjadi salah satu bukti bahwa ternyata orang Sunda pada hakikatnya “teu kurung batokkeun”, alias bukan katak dalam tempurung. Orang Sunda terbiasa mengembara. Karena terbiasa mengembara, banyak tempat dikunjungi, sehingga menyadari pentingnya wawasan geografis. Di sisi lain, naskah ini menyajikan gambaran tentang tradisi orang Sunda menimba ilmu, di antaranya dengan nyantrik dan membaca buku.

Dari naskahnya terbaca kesungguhan Bujangga Manik menuntut ilmu, terutama yang berhubungan dengan agama. Selama perjalanannya, ia belajar kepada mahapandita di mandala Gunung Damalung, Jawa Tengah, dan Pamerihan. Ia pun sempat bertapa untuk beribadah dan mendalami ilmu agama di mandala Balungbungan (Blambangan) di Jawa Timur selama lebih dari setahun. Bahkan, pernah bermukim di Rabut Palah, mandala paling utama di Kerajaan Majapahit, selama setahun lebih. Di sana ia mendalami ilmu agama dan mengkaji kitab Darmaweya dan Pandawa Jaya. Untuk keperluan itu, ia pun mempelajari dan bisa berbahasa Jawa.

Selain itu, kebiasaan membaca di kalangan orang Sunda ikut pula terbaca, terutama di kalangan ahli agama. Sebab, tampaknya tradisi membaca yang hidup di Tatar Sunda pertama kali hidup di kalangan tersebut. Kebiasaan membaca ini dilaporkan Jompong Larang, pelayan putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana, saat melihat Bujangga Manik pulang dari Pamalang dan tiba di istana. Jompong antara lain menggambarkan Bujangga Manik sebagai berikut, “Teher bisa carek Jawa/weruh di na eusi tangtu/lapat di tata pustaka/weruh di darma pitutur/bisa di sanghiang darma” (Kemudian pandai pula berbahasa Jawa, mengerti tentang hal hukum, menguasai tentang berbagai kitab, paham dalam hal adat-istiadat, mahir di dalam bidang peradilan).

Dengan demikian, kita semua bisa berharap untuk dapat meneladani laku Bujangga Manik dalam kerangka menuntut ilmu. Di mana pun dan kapanpun bisa dimanfaatkan sebagai momentum untuk menambah pengetahuan, mengubah paradigma, mengasah kemampuan, dan mempraktikkan keahlian, berdasarkan rangkaian aksara yang kita baca dan kita mamah. Dan itulah memang hakikat dari literasi yang kita galakkan kini. Semoga saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *