Mengembalikan Kejayaan Literasi Bangsa


Vudu Abdul Rahman

Seorang awak kapal berkebangsaan Belanda yang bekerja di sebuah kapal layar Portugis menuliskan perjalanannya hingga menjadi sebuah buku. Dari buku yang ditulisnya, orang-orang Belanda mengetahui pulau-pulau yang diciptakan Tuhan sangat indah, subur, kaya, dan penuh rahasia. Bagi bangsa Belanda, buku tersebut merupakan kapal layar pengangkut mereka untuk berlabuh ke pulau-pulau yang kemudian disebut Indonesia. Seorang pekerja berkebangsaan Belanda yang bernama Jan Huygen van Linshoten menerbitkan buku Iti-nerario naer Oost ofte Portugaels Indien [Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis], pada tahun 1595 (Rizki Ridyasmara, 2013, hlm. 20). Sejumlah orang Belanda yang bekerja kepada Portugis merahasiakan peta-peta rahasia menuju Asia Tenggara. Buku inilah yang menjadi peta bangsa Belanda menuju Indonesia.
Jauh sebelum negeri ini dinyatakan berada di posisi hampir terakhir dalam kemampuan literasi, karya sastra telah berkembang pesat, pada tahun 957 Saka (1035 Masehi). Misal, Kitab Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa yang diadaptasi dari cerita epik Mahabharata (Teguh Panji, 2015, hlm. 36). Sejarah memang tidak dapat diulang, tetapi dapat dijadikan tolok ukur bahwa bangsa ini telah memiliki riwayat literasi [sastra] tingkat tinggi. Bangsa ini sebenarnya tidak pernah kekurangan bahan bacaan berkualitas sejak zaman Hindia Belanda. Balai Poestaka telah menyebarluaskan terbitan buku-buku di tengah masyarakat, sejak 15 Agustus 1908. Bahkan setelah menerbitkan Pandji Poestaka, Balai Poestaka juga menerbitkan edisi mingguan dengan berbahasa Sunda, Parahiangan, dan majalah berbahasa Jawa, Kejawen, yang terbit dua kali seminggu (P. Swantoro, 2016, hlm. 53). Hal ini menunjukkan bahwa bangsa ini tidak tertinggal dalam budaya baca-tulisnya (kesusastraan).
Dalam perkembangan puisi Indonesia, misalnya, dimulai sekitar pertengahan abad ke-19, ketika di negeri yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda ini, masyarakat mulai mengembangkan media massa cetak (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2009, hlm. 1). Sastra adalah produk budaya. Sebagai produk budaya, sastra Indonesia dapat berupa cerita yang dilagukan, baik dengan tambahan tarian dan instrumen musik maupun tidak; dapat berupa naskah tulisan tangan yang berhuruf Arab Melayu atau huruf yang bersumber dari bahasa-bahasa daerah, seperti huruf Sunda, Jawa, Batak, dan Bali; dapat juga berupa puisi, cerpen, novel, dan drama yang menggunakan huruf latin dan biasanya dalam bentuk cetakan, bahkan buku elektronik—yang dapat dibaca pada situs internet di komputer dan telepon genggam atau gawai (Sumiyadi, 2012, hlm. 1).
Lembaga pendidikan berusaha membangun kesadaran berliterasi di kalangan pelajar. Pengaruh lingkungan rumah sangat berperan penting dalam mengenalkan buku pertama kali. Sangat disayangkan jika orang tua beranggapan membeli buku sama saja membuang uang saku. Selain mengisi perut dengan makanan, pikiran anak-anak pun harus diisi dengan bacaan-bacaan inspiratif, heroik, motivasi, dan cinta tanah air. Anak-anak Indonesia membaca 27 halaman buku per tahun atau 1 halaman per 15 hari (Ajip Rosidi, 2006). Sedang menurut Taufik Ismail mengatakan bahwa sejak Indonesia merdeka tidak ada satu pun buku sastra yang wajib dibaca di sekolah. Telah terjadi ‘Tragedi Nol Buku’ di Indonesia (2006).
Orang-orang besar yang memiliki pengaruh di dunia adalah mereka yang senang membaca. Mereka hampir menghabiskan waktunya untuk mengasah kemampuan bernalar. Memiliki cara pandang lebih jauh dari masyarakat biasa terhadap arah masa depan. Sutan Sjahrir, Ir. Soekarno, Tan Malaka, Moh. Hatta, Malcolm X, Karl Mark, Hasan Al Bana, Karl May, Che Guevara, Mahatma Ghandi, Steve Jobs, Adolf Hitler, Barack Obama, dan Imam Khomeini, sebagian sosok yang kuat daya bacanya.
Hamid Muhammad mengatakan (2018) dalam konteks internasional, pemahaman membaca tingkat sekolah dasar (kelas IV) diuji oleh Asosiasi Internasional untuk Evaluasi Prestasi Pendidikan (IEA-the International Association for the Evaluation of Educational Achievement) dalam Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang dilakukan setiap lima tahun (sejak tahun 2001). Selain itu, PIRLS berkolaborasi dengan Trends in International Mathematics and Science Studies (TIMSS) menguji kemampuan matematika dan sains peserta didik. Pada tingkat sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik (selain matematika dan sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD—Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Sementara itu, dalam konteks nasional, Puspendik Kemendikbud mengembangkan Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (Indonesia National Assesment Program – INAP) yang setara dengan PIRLS, untuk menguji siswa SD kelas IV pada 2016. AKSI mengukur kemampuan siswa dalam mata pelajaran membaca, matematika, dan sains.
Menurut penelitian organisasi dunia bahwa daya nalar para pelajar Indonesia masih sangat rendah. Menurut Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD—Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA) berada di posisi ke-64 dari 65 negara peserta PISA. Pada tahun 2016, ada di posisi ke-60 dari 61 negara, satu tingkat di atas Botswana. Kenyataan pahit kemampuan bernalar para pelajar Indonesia dari negara-negara lainnya tidak perlu diratapi. Diharapkan semua pihak berkolaborasi mengejar kemajuan bangsa lain yang telah meninggalkan bangsa ini.
Program Gerakan Literasi Sekolah memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “Kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Selain itu, Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah ditujukan bagi pemantapan Kurikulum 2013 bagi semua mata pelajaran dengan menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran dengan merujuk pada Higher Order Thinking Skills (HOTS, keterampilan bernalar tingkat tinggi), kompetensi abad XXI (kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif), dan penguatan pendidikan karakter (Hamid Muhammad, 2018).
Bagi penulis, gerakan yang telah dirancang dengan baik tersebut dapat dimulai dengan menggali potensi peserta didik di kelas. Tuhan tidak mungkin menciptakan anak-anak dengan kesia-siaan. Pasti ada maksud dan tujuan untuk diterjemahkan orang-orang dewasa [orang tua dan guru] di sekitarnya. Membentuk mereka sesuai dengan karakter, potensi, dan kebutuhannya. Permasalahan yang terjadi di kelas, yakni ragam karakter peserta didik itu kemudian diberi ruang atau tidak. Para guru bersedia memberdayakan bakat yang dibawa mereka sejak lahir. Sofie Dewayani menegaskan bahwa pendidikan yang mekanistik–guru hanya berfokus menuntaskan pengajaran dengan mengabaikan latar-belakang peserta didik yang beragam–hanya sedikit berkontribusi pada peningkatan taraf hidup karena tidak melahirkan peserta didik pembelajar. Willis berteori bahwa dalam sistem pendidikan mekanistik, hanya mereka yang berusaha dengan sangat keraslah yang mampu mengalami mobilitas vertikal (dalam bentuk peningkatan status sosial, pekerjaan lebih baik, dan peningkatan pendapatan). Pendidikan seperti ini hanya menghasilkan peserta didik yang tidak mampu memanjat roda mobilitas sosial; peserta didik dari keluarga atau daerah yang miskin dan marjinal selamanya akan tetap tertinggal (2018, hlm. IV).
Penulis akan menjelaskan sebuah komunitas literasi sekolah yang lahir dari sebuah kelas, tanpa markas, pinjam saung warga, mendirikan rumah pustaka dengan istana buku di ruang tamu, hingga mendirikan literacy center di balai warga. Begitulah gambaran perjalanan panjang selama hampir sewindu dalam menggelorakan literasi sejak dini di Tasikmalaya. Sebelum bergerak spiral dalam menggelorakan literasi di lingkungan masyarakat dan keluarga, penulis memulai seluruh kegiatan dari sebuah kelas tempat tugas mengajar. Inisiatif itu muncul karena banyak potensi anak-anak yang jarang tersentuh di sekolah. Pers Cilik Cisalak yang kerap disebut Percisa Kids, berdiri 7 Juni 2010. Penulis melibatkan berbagai pegiat komunitas kreatif untuk membantu dalam pengembangan potensi dan kreativitas anak-anak.
Komunitas literasi sekolah ini kemudian dijadikan salah satu ruang pendidikan alternatif dalam pengembangan potensi dan kreativitas anak-anak, remaja, dan dewasa. Melahirkan tujuh angkatan dengan beragam karya multiliterasi; buku, film pendek, video diary, komik strip, album lagu anak, dan masih banyak lagi. Penggalian kreativitas dilaksanakan di lingkungan masyarakat, sekolah, dan keluarga. Pada awal pendirian komunitas bernama Pers Cilik Cisalak (Percisa) dengan langkah sederhana. Melalui pembuatan majalah dinding, buku, dan film pendek. Seiring waktu berjalan, komunitas yang penulis dirikan melaksanakan penguatan literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi digital, literasi sains serta literasi budaya dan kewargaan. Setelah mengalami dinamika gerakan selama 7 tahun, Percisa membelah diri menjadi Rumpaka Percisa (Rumah Pustaka Pers Cilik Cisalak) dan Sabak Percisa (Sekolah Bacaan SDN. Perumnas Cisalak). Penyebaran virus literasi tidak berhenti sampai di sana, tapi hingga ceruk perkomunitasan. Gali Nagari, Kebon Buku, Tangkal Kopi, Konde Sartika, Raamfest, Pergola Coffee Corner, Nawnaw Aliansi, Jamah Karya, Karya Raya, dan Garis Estetika. Berkolaborasi dengan berbagai komunitas kreatif Tasikmalaya untuk berbagi praktik baik dan pengembangan gerakan dan karya. Langkah ini diambil sebagai wujud dalam menghasilkan berbagai karya.
Penulis percaya bahwa setiap anak dilahirkan dengan kecerdasannya masing-masing. Sebagaimana Howard Gardner mengklasifikasikannya ke dalam 8 kecerdasan; linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetis, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Sekolah tidak dapat berjalan sendirian melaksanakan pendidikan abad 21 yang tengah menghadapi revolusi industri 4.0 di era disrupsi.

Daftar Rujukan
Adam, Aulia. 2017. Selamat Tinggal Generasi Y Selamat Datang Generasi Z. Diakses melalui: https://tirto.id/selamat-tinggal-generasi-milenial-selamat-datang-generasi-z-cnzX, pada
Selasa, 4 Desember 2018.
Dewayani, Sofie. 2018. Menghidupkan Literasi di Ruang Kelas. Yogyakarta. Kanisius.
_. 2018. Bunga Rampai GLS: Praktik Baik Pembelajaran dan Penumbuhan Budaya Literasi. Jakarta. Kemendikbud Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.
Ridyasmara, Rizki. 2013. The Jacatra Secret. Yogyakarta. Bentang Pustaka.
Swantoro, P. 2016. Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.
Panji, Teguh. 2015. Kitab Sejarah Terlengkap Majapahit. Yogyakarta. Laksana.
Primadesi, Yona. 2018. Dongeng Panjang Literasi Indonesia. Yogyakarta. Kabarita.
Wiedarti, Pangesti, dkk. 2018. Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.