Gerakan Literasi Dini untuk Menumbuhkan Budaya Baca

Oleh: Nero Taopik Abdillah

Untuk memulai tulisan pendek ini, saya akan mengutip sebuah pernyataan dari buku Saatnya Bercerita yang ditulis Sofie Dewayani dan Roosie Setiawan yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. “Tidak tumbuhnya minat membaca pada anak sebagian disebabkan fakta bahwa literasi dini tidak ditumbuhkan pada tiga tahun pertama kehidupan anak”, begitulah bunyi pernyataan tersebut yang ditulis pada halaman awal buku.

Jika demikian, maka salah satu upaya yang harus dilakukan oleh Taman Bacaan Masyarakat sebagai ruang kampanye gerakan membaca adalah melakukan gerakan literasi dini. Terkait hal itu banyak cara yang bisa ditempuh. Apa sajakah itu? Hal yang paling utama tentunya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat (orang tua) tentang pentingnya literasi dini. Hal ini bisa dilakukan melalui kegiatan seminar atau penyuluhan. Kegiatan ini sangat mungkin dilakukan dengan bekerjasama dengan berbagai pihak, misal dengan Pemerintah Desa, Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga, HIMPAUDI atau organisasi lainnya. Pada perkembangannya kegiatan ini bisa dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan membacakan cerita untuk anak, menulis cerita untuk anak dan aneka kegiatan lainnya yang berkaitan dengan literasi dini.

Langkah lain yang mungkin ditempuh oleh TBM dalam rangka penguatan gerakan literasi dini adalah memberikan penghargaan kepada orang tua yang paling sering mengantar dan membacakan buku cerita anaknya di TBM, atau meminjam buku cerita untuk anaknya. Penghargaan bisa dilakukan dengan cara mengumumkan orang yang bersangkutan melalui ekun medsos TBM, memberikan piagam penghargaan, atau jika mungkin memberikan hadiah dalam bentuk lain. Dengan cara itu diharapkan akan ada banyak orang tua lainnya yang terinspirasi dan melakukan hal yang sama.

Apakah ada cara lain selain langkah-langkah di atas?Tentu saja banyak, contohnya menggelar kegiatan membacakan buku cerita secara terjadwal, menggelar kegiatan mendongeng secara rutin, menyediakan aneka bahan bacaan atau artefak literasi di TBM seperti kartu huruf dan kartu kata, memajang aneka gambar, menyediakan ruang dan bahan untuk anak-anak belajar mencoret, dan lain-lain.

Penegasan tentang pentingnya literasi dini seperti yang diungkap di atas, juga disampaikan oleh Roskos, dkk., dalam sebuah artikel yang berjudul The Essentials of Early Literacy Instruction. Pada artikel disebut tertulis bawah petunjuk literasi awal yang efesien memberikan anak-anak prasekolah dengan pengaturan, bahan, pengalaman yang sesuai dengan perkembangan, dan dukungan sosial yang akan mendorong bentuk awal membaca dan menulis sampai berkembang pada tahap melek huruf.

Jika gerakan literasi dini dilakukan secara massif oleh semua TBM dan komunitas literasi lainnya tentu saja peluang lahirnya generasi pembaca pada masa yang akan datang terbuka lebar. Sebagai penutup tulisan, saya hendak menegaskan bahwa gerakan literasi dini akan sukses jika setiap keluarga (orang tua) sudah mulai melakukannya di rumah-rumah masing-masing. Oleh sebab itu, berbagai upaya untuk membangun pemahaman bahwa literasi dini itu penting bagi tumbuhnya budaya baca pada anak, harus terus dikampanyekan kepada segenap masyarakat. ***NTA

Daftar bacan:

Dewayani, S. & Setiawan, R. (2018). Saatnya Bercerita: Mengenalkan Literasi Sejak Dini. Yogyakarta: Kanisius.

Roskos, K. A., et. al., (2003). The Essentials of Early Literacy Instruction. National Association for the Education of Young Children. Reprints online at www.naeyc.org/resources/journal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *